SELAMAT DATANG DI MAK ONGGA PRODUCTION

Jika Anda perlu video shooting atau video rekaman untuk berbagai acara besar Anda entah di Padang atau di Pariaman,Bukit-tinggi (Sumatera Barat Indonesia), jangan lupa silahkan hubungi kami:

HP : 081374277677 dan 085356430278 Telp 07519936778

Facebook :

https://www.facebook.com/groups/193457994065675/

http://www.facebook.com/profile.php?id=100003527124372

https://www.facebook.com/ajoridwan

Minggu, 11 Maret 2012

Pengertian Editing


Kata
editing dalam bahasa Indonesia adalah serapan dari Ingris. Editing berasal dari bahasa Latin editus yang artinya ‘menyajikan kembali’. Editing dalam bahasa Indonesia bersinonim dengan kata editing. Dalam bidang audio-visual, termasuk film, editing adalah usaha merapikan dan membuat sebuah tayangan film menjadi lebih berguna dan enak ditonton. Tentunya editing film ini dapat dilakukan jika bahan dasarnya berupa shot (stock shot) dan unsur pendukung seperti voice, sound effect, dan musik sudah mencukupi. Selain itu, dalam kegiatan editing seorang editor harus betul-betul mampu merekontruksi (menata ulang) potongan-potongan gambar yang diambil oleh juru kamera. Leo Nardi berpendapat editing film adalah merencanakan dan memilih serta menyusun kembali potongan gambar yang diambil oleh juru kamera untuk disiarkan kepada masyarakat. (Nardi, 1977: 47).

Pertunjukan film di bioskop ataupun televisi di rumah-rumah apabila belum melalui proses editing bisa dipastikan hasilnya tidak maksimal, penonton cenderung merasa bosan dan jenuh. Padahal, tayangan film ataupun video begitu ekonomis. Artinya, penayangannya sangat bergantung pada aspek waktu. Waktu begitu mahal dan menentukan dalam proses penayangan film. Jika sebuah tayangan berdurasi 60 menit, itu artinya selama waktu itu pencipta film harus menjamin tidak membuat penonton bosan apalagi meninggalkan bioskop, atau kalau di televisi memindahkan saluran. Begitu berartinya sebuah hasil editing sampai ada pengamat film yang menyatakan bahwa ruh tayangan film adalah proses editing.

Selain itu, J.M. Peters menyatakan bahwa yang dimaksud dengan editing film adalah mengkombinasikan atau memisah-misahkan rangkaian film sehingga tercapai sintesis atau analisis dari bahan yang diambil (Peters, 1980: 9). Di sini, Peters mengungkapkan, dengan editing, film sintesis atau sutradara televisi dapat menghidupkan cerita, menjernihkan suatu keterangan, menyatakan ide-ide atau menimbulkan rasa haru pada penonton. Nyata sekali Peters menekankan pada aspek ‘pemberian’ suasana dan nuansa sebuah film setelah melalui proses editing. Pada saat editing berlangsung, tentunya tugas editor tidak hanya menyambung-nyambung belaka. Karena selain unsur visualisasi, unsur pikturisasi (penceritaan lewat rangkaian gambar) juga penting. Unsur inilah yang membedakan kegiatan sambung menyambung dengan editing. Selain itu, keindahan sebuah film tidak melulu disampaikan lewat rangkaian gambar, tetapi juga tingkahan musik dan sound effect yang menjadikan sebuah film bernuansa. Di zaman film bisu, rangkaian gambar diupayakan semaksimal mungkin membangun cerita film, tetapi setelah era film bersuara, kolaborasi antara film dan musik begitu menyatu.

Sementara itu,
D.W. Griffith berpendapat bahwa editing film merupakan suatu hal yang terpenting dalam film karena editing film itu merupakan suatu seni yang tinggi. Seni sendiri merupakan pondasi dari film. Menyunting film adalah menyusun gambar-gambar film untuk menimbulkan tekanan dramatik dari cerita film itu sendiri. Sutradara dan editor harus pandai dalam selection of shot, selection of action ( scene demi scene yang harus dirangkaikan) (Griffith, 1972: 20-25).

Dari penjelasan Griffith tersebut, terkandung pengertian bahwa di samping pentingnya penyusunan film, perlu adanya penyisipan-penyisipan potongan film untuk membuat film itu bercerita. Ini penting sekali diungkapkan dalam pembuatan film pada televisi karena televisi sangat singkat, tetapi bagaimana caranya supaya masyarakat tertarik untuk menyaksikan secara keseluruhan.

Adapun
Pudovkin mengatakan perlu adanya constructive editing, yakni pelaksanaan editing film yang sudah dimulai dari penulisan dan membuat shot-shot sebagai materi editing film. Dalam hal editing ini, Pudovkin mempunyai sebuah prinsip, yaitu peristiwaperistiwa yang akan direkam dalam gambar tidak terlepas dari tiga faktor: watak manusia, ruang dan waktu. Di samping tidak terlepas dari ‘lirik editing’, yakni bagaimana caranya mengeksploitasi sesuatu yang tidak tampak seperti kegembiraan, kesenangan, kesedihan, dan lain-lain (Pudovkin, 1972: 26).

Namun pendapat dari kedua pakar film tersebut ditentang oleh Elsenstein, seorang arsitek yang lari ke dunia film. Dia mengecam Griffith dan Pudovkin dengan alas an keduanya hanya menyambung gambar dengan mengharapkan penonton ikut tertawa atau menangis. Menurut dia, dalam proses editing film harus dilakukan dengan cara menyambung dua buah shot atau adegan yang dapat menimbulkan pengertian baru melalui cara pemikiran dan selalu menimbulkan istilah pemikiran yang baru. Untuk itu, dia menghadapkan pada kiasan melalui lambang-lambang sehingga penonton turut berpikir secara intelektual terhadap adegan yang dilihatnya (1972: 33).

Terlepas dari beberapa pendapat tentang editing film tersebut, yang jelas proses editing memang menduduki posisi penting dalam menghasilkan karya film yang menarik dan tidak membosankan. Oleh karena itu, tugas seorang editor begitu berat dan mengandung resiko sebab bisa jadi stock shot yang sebetulnya sudah bagus malah tidak bisa ‘bercerita’ karena kegagalan sang editor.

Dokumentasi Video Pernikahan






Sejarah
Dokumentasi video pernikahan mulai berkembang dengan pesat 5 sampai 10 tahun belakangan ini di Indonesia, dimana fungsinya sudah tidak lagi sebagai pelengkap dokumentasi foto yang telah berkembang lebih dahulu. Kini dokumentasi video merupakan suatu keharusan pada seluruh peristiwa kehidupan yang penting, termasuk di dalam prosesi pernikahan, prosesi sakral yang hanya terjadi satu kali didalam kehidupan. Dengan adanya dokumentasi video,  mereka dapat memutar ulang setiap adegan acara kapan saja, bahkan saat mereka sudah lanjut usia sekalipun, kenangan indah tersebut dapat dinikmati kembali. Inilah salah satu keunggulan dokumentasi video dibandingkan dokumentasi foto, mereka “bergerak”.

Perkembangan dokumentasi pernikahan pun bergerak, bergerak ke arah yang lebih baik. Tidak hanya sekedar meliput acara, sekarang dokumentasi video pernikahan dibuat lebih profesional, orang-orang yang profesional dengan alat-alat yang profesional pula. Bahkan beberapa vendor membuat konsep terlebih dahulu, agar hasil akhir sesuai dengan yang diinginkan—terutama  yang diinginkan client—dan konsep tersebutlah yang secara langsung atau tidak langsung menjadi identitas perusahaan mereka. Sekarang semua dikemas dengan sangat profesional.

Dalam dokumentasi video pernikahan ada 3 proses penting, yaitu: Shooting, editing, dan authoring.

Shooting

Video shooting adalah proses pengambilan gambar dengan menggunakan kamera video. Ini adalah proses awal dari dokumentasi video pernikahan. Selain penentuan kamera yang akan digunakan, teknik shooting yang baik dipadu dengan pengetahuan tentang jalannya acara dan konsep editing yang akan diterapkan sangat menentukan hasil akhir dokumentasi video pernikahan. Penentuan kamera yang akan digunakan sangatlah penting, terutama menyangkut format gambar dan kualitas gambar yang akan dihasilkan, sementara tehnik shooting yang baik, pengetahuan tentang jalan acara dan konsep editing yang akan diterapkan akan membantu dalam kekayaan gambar bagus yang dihasilkan.

Banyak jenis kamera yang dapat dipakai, namun semenjak Canon meluncurkan produk Camera berkemampuan rekam video, Canon 5d mark II, diikuti dengan DSLR-DSLR berkemampuan rekam video lainnya, shooting video pernikahan berkembang ke tahap berikutnya. Depth of Field, dukungan format Full HD dan harga yang ekonomis adalah beberapa hal yang menjadikan shooting dengan kamera DSLR sangat menjanjikan. Kendala tidak efisiennya pengendalian shooting video dengan kamera ini lambat laun teratasi dengan munculnya produk-produk pendukung.


Kamera yang umum dipakai untuk meliput pernikahan:
HDV
Media penyimpanan: Kaset Mini DV
Format Video: .mov/.avi
DVCAM
Media penyimpanan: Kaset DVCAM
Format Video: .mov/.avi
XDCAM
Media penyimpanan: Professional Disc
Format Video: .mxf
Kamera DSLR
Media penyimpanan: Compact Flash
Format Video: .mov

Editing

Editing adalah proses menggerakan dan menata video shot/hasil rekaman gambar menjadi suatu rekaman gambar yang baru dan enak untuk dilihat. secara umum pekerjaan editing adalah berkaitan dengan proses pasca produksi, seperti pembuatan titel, koreksi warna, penataan suara, dll.
Hal pertama yang dilakukan sebelum proses editing dapat dimulai adalah Capturing. Capturing adalah proses memindahkan data dari kaset ke dalam Hard Disk. Pada umumnya ada 2 jenis pemindahan data, semua tergantung media penyimpanan yang kita pakai saat proses shooting, yaitu:

1. Capturing pada media yang berbasis pita (Kaset DVCAM dan Mini DV).

Cara capture dengan media yang berbasis pita adalah dengan menggunakan Player DVCAM/Mini DV atau langsung dari Kamera. Lama waktu capture dengan proses ini adalah sebanding dengan lama hasil shooting kamera yang terekam dalam kaset (real time).
2. Capturing pada media yang berbasis digital (Professional Disc dan Compact Flash)
Sementara capture pada media yang berbasis digital menerapkan system copy paste. Lama waktu proses ini dipengaruhi oleh transfer data kabel, dan biasanya lebih cepat dari waktu capture dengan basis pita. Untuk XDCAM diperlukan XDCAM player, sementara dari memory Compact Flash dibutuhkan card reader.
Jenis-jenis editing yang ada di dunia wedding:

1. Versi Panjang (Versi Dokumentasi)

Tujuan pembuatan video versi panjang biasanya adalah lebih untuk keperluan dokumentasi. Struktur editing-nyapun mengikuti alur acara yang ada.

2. Versi Cinematic

Versi cinematic biasanya dibuat untuk menampilkan ringkasan keselurauhan acara. Editingnya dibuat  untuk memainkan emosi penonton terhadap setiap segmen acara yang ada. Seperti pada saat acara persiapan biasanya dengan editing yang cepat dan lebih dinamis, sementara editing acara pemberkatan dengan editing yang pelan dan mengangkat emosi, walaupun tidak harus selalu begitu.
Dalam Editing dengan versi cinematic biasanya editor diberikan kebebasan dalam mengeksplorasi kemampuan editingnya. Perasaan dan idealisme banyak bermain dalam pembuatan video dengan versi ini.

3. Same day Edit

Same day edit adalah pembuatan video clip rangkaian acara sebelum resepsi untuk diputar saat acara resepsi berlangsung. Durasinya biasanya hanya sepanjang satu buah lagu. Susunan editing same day edit pada umumnya dikelompokan menjadi dua, yang pertama, mengikuti struktur jalan acara yang ada, yang kedua, susunannya tidak berurutan tapi mengangkat momen kunci sebagai alur ceritanya. Karena menyangkut waktu yang terbatas, editor same day edit dituntut untuk bekerja dengan sangat cepat.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam editing:

1. Sinkronisasi Audio

Audio adalah salah satu faktor yang amat penting dan sering terlupakan. Audio yang jernih akan menambah hasil editing video lebih maksimal. Begitupula untuk acara pernikahan. Untuk memaksimalkan kualitas Audio, pada beberapa acara, pengambilan audio dari mixer adalah suatu keharusan. Adanya Audio dari sumber lain selain kamera inilah yang membutuhkan perhatian khusus saat proses editing, agar suara dan gambar menjadi sinkron.

2. Koreksi warna

Warna juga butuh perhatian khusus dalam proses editing. Perbedaan warna akan terlihat tidak bagus dan sangat mengganggu untuk dilihat. Perbedaan warna biasanya terjadi pada shooting dengan multi kamera. Pengaturan white balance yang berbeda antar kamera sering menyebabkan warna yang berbeda. Inilah salah satu tugas yang sangat penting oleh seorang editor untuk membuat tone warna sama dalam hasil editingnya.
3. Efek video yang digunakan


Authoring

Authoring adalah proses pembuatan hasil akhir sebuah video ke dalam berbagai media yang diinginkan, seperti DVD atau Blu-ray Disc. Proses Pembuatan interaktif menu dan pembakaran kedalam kepingan DVD/Blu-ray Disc adalah tugas utama dari bagian ini.

Rabu, 07 Maret 2012





FILM DOKUMENTER

Film dokumenter adalah film yang mendokumentasikan kenyataan. Istilah "dokumenter" pertama digunakan dalam resensi film Moana (1926) oleh Robert Flaherty, ditulis oleh The Moviegoer, nama samaran John Grierson, di New York Sun pada tanggal 8 Februari 1926.

Di Perancis, istilah dokumenter digunakan untuk semua film non-fiksi, termasuk film mengenai perjalanan dan film pendidikan. Berdasarkan definisi ini, film-film pertama semua adalah film dokumenter. Mereka merekam hal sehari-hari, misalnya kereta api masuk ke stasiun. pada dasarnya, film dokumenter merepresentasikan kenyataan. Artinya film dokumenter berarti menampilkan kembali fakta yang ada dalam kehidupan.

DOKUDRAMA
Pada perkembangannya, muncul sebuah istilah baru yakni Dokudrama. Dokudrama adalah genre dokumenter dimana pada beberapa bagian film disutradarai atau diatur terlebih dahulu dengan perencanaan yang detail. Dokudrama muncul sebagai solusi atas permasalahan mendasar film dokumenter, yakni untuk memfilmkan peristiwa yang sudah ataupun belum pernah terjadi.


DOKUMENTER MODERN
Para analis Box Office telah mencatat bahwa genre film ini telah menjadi semakin sukses di bioskop-bioskop melalui film-film seperti Super Size Me, March of the Penguins dan An Inconvenient Truth. Bila dibandingkan dengan film-film naratif dramatik, film dokumenter biasanya dibuat dengan anggaran yang jauh lebih murah. Hal ini cukup menarik bagi perusahaan-perusahaan film sebab hanya dengan rilis bioskop yang terbatas dapat menghasilkan laba yang cukup besar.

Perkembangan film dokumenter cukup pesat semenjak era cinema verité. Film-film termasyhur seperti The Thin Blue Line karya Errol Morris stylized re-enactments, dan karya Michael Moore: Roger & Me menempatkan kontrol sutradara yang jauh lebih interpretatif. Pada kenyataannya, sukses komersial dari dokumenter-dokumenter tersebut barangkali disebabkan oleh pergeseran gaya naratif dalam dokumenter. Hal ini menimbulkan perdebatan apakah film seperti ini dapat benar-benar disebut sebagai film dokumenter; kritikus kadang menyebut film-film semacam ini sebagai mondo films atau docu-ganda. Bagaimanapun juga, manipulasi penyutradaraan pada subyek-subyek dokumenter telah ada sejak era Flaherty, dan menjadi semacam endemik pada genrenya.

Kesuksesan mutakhir pada genre dokumenter, dan kemunculannya pada keping-keping DVD, telah membuat film dokumenter menangguk keuntungan finansial meski tanpa rilis di bioskop. Meski begitu pendanaan film dokumenter tetap eksklusif, dan sepanjang dasawarsa lalu telah muncul peluang-peluang eksibisi terbesar dari pasar penyiaran. Ini yang membuat para sineas dokumenter tertarik untuk mempertahankan gaya mereka, dan turut memengaruhi para pengusaha penyiaran yang telah menjadi donatur terbesar mereka. Dokumenter modern saling tumpang tindih dengan program-program televisi, dengan kemunculan reality show yang sering dianggap sebagai dokumenter namun pada kenyataannya kerap merupakan kisah-kisah fiktif. Juga bermunculan produksi dokumenter the making-of yang menyajikan proses produksi suatu Film atau video game. Dokumenter yang dibuat dengan tujuan promosi ini lebih dekat kepada iklan daripada dokumenter klasik.

Kamera video digital modern yang ringan dan editing terkomputerisasi telah memberi sumbangan besar pada para sineas dokumenter, sebanding dengan murahnya harga peralatan. Film pertama yang dibuat dengan berbagai kemudahan fasilitas ini adalah dokumenter karya Martin Kunert dan Eric Manes: Voices of Iraq, dimana 150 buah kamera DV dikirim ke Iraq sepanjang perang dan dibagikan kepada warga Irak untuk merekam diri mereka sendiri.

BENTUK DOKUMENTER LAINNYA

FILM KOMPILASI
Film kompilasi dicetuskan pada tahun 1927 oleh Esfir Shub dengan film berjudul The Fall of the Romanov Dynasty. Contoh-contoh berikutnya termasuk Point of Order (1964) yang disutradarai oleh Emile de Antonio mengenai pesan-pesan McCarthy dan The Atomic Cafe yang disusun dari footage-footage yang dibuat oleh pemerintah AS mengenai keamanan radiasi nuklir (misalnya, memberitahukan pada pasukan di suatu lokasi bahwa mereka tetap aman dari radiasi selama mereka menutup mata dan mulut mereka). Hampir mirip dengannya adalah dokumenter The Last Cigarette yang memadukan testimoni dari para eksekutif perusahaan-perusahaan tembakau di depan sidang parlemen AS yang mengkampanyekan keuntungan-keuntungan merokok.


Film dokumenter adalah film yang mendokumentasikan kenyataan. Istilah "dokumenter" pertama digunakan dalam resensi film Moana (1926) oleh Robert Flaherty, ditulis oleh The Moviegoer, nama samaran John Grierson, di New York Sun pada tanggal 8 Februari 1926.

Di Perancis, istilah dokumenter digunakan untuk semua film non-fiksi, termasuk film mengenai perjalanan dan film pendidikan. Berdasarkan definisi ini, film-film pertama semua adalah film dokumenter. Mereka merekam hal sehari-hari, misalnya kereta api masuk ke stasiun. pada dasarnya, film dokumenter merepresentasikan kenyataan. Artinya film dokumenter berarti menampilkan kembali fakta yang ada dalam kehidupan.

DOKUDRAMA
Pada perkembangannya, muncul sebuah istilah baru yakni Dokudrama. Dokudrama adalah genre dokumenter dimana pada beberapa bagian film disutradarai atau diatur terlebih dahulu dengan perencanaan yang detail. Dokudrama muncul sebagai solusi atas permasalahan mendasar film dokumenter, yakni untuk memfilmkan peristiwa yang sudah ataupun belum pernah terjadi.


DOKUMENTER MODERN
Para analis Box Office telah mencatat bahwa genre film ini telah menjadi semakin sukses di bioskop-bioskop melalui film-film seperti Super Size Me, March of the Penguins dan An Inconvenient Truth. Bila dibandingkan dengan film-film naratif dramatik, film dokumenter biasanya dibuat dengan anggaran yang jauh lebih murah. Hal ini cukup menarik bagi perusahaan-perusahaan film sebab hanya dengan rilis bioskop yang terbatas dapat menghasilkan laba yang cukup besar.

Perkembangan film dokumenter cukup pesat semenjak era cinema verité. Film-film termasyhur seperti The Thin Blue Line karya Errol Morris stylized re-enactments, dan karya Michael Moore: Roger & Me menempatkan kontrol sutradara yang jauh lebih interpretatif. Pada kenyataannya, sukses komersial dari dokumenter-dokumenter tersebut barangkali disebabkan oleh pergeseran gaya naratif dalam dokumenter. Hal ini menimbulkan perdebatan apakah film seperti ini dapat benar-benar disebut sebagai film dokumenter; kritikus kadang menyebut film-film semacam ini sebagai mondo films atau docu-ganda. Bagaimanapun juga, manipulasi penyutradaraan pada subyek-subyek dokumenter telah ada sejak era Flaherty, dan menjadi semacam endemik pada genrenya.

Kesuksesan mutakhir pada genre dokumenter, dan kemunculannya pada keping-keping DVD, telah membuat film dokumenter menangguk keuntungan finansial meski tanpa rilis di bioskop. Meski begitu pendanaan film dokumenter tetap eksklusif, dan sepanjang dasawarsa lalu telah muncul peluang-peluang eksibisi terbesar dari pasar penyiaran. Ini yang membuat para sineas dokumenter tertarik untuk mempertahankan gaya mereka, dan turut memengaruhi para pengusaha penyiaran yang telah menjadi donatur terbesar mereka. Dokumenter modern saling tumpang tindih dengan program-program televisi, dengan kemunculan reality show yang sering dianggap sebagai dokumenter namun pada kenyataannya kerap merupakan kisah-kisah fiktif. Juga bermunculan produksi dokumenter the making-of yang menyajikan proses produksi suatu Film atau video game. Dokumenter yang dibuat dengan tujuan promosi ini lebih dekat kepada iklan daripada dokumenter klasik.

Kamera video digital modern yang ringan dan editing terkomputerisasi telah memberi sumbangan besar pada para sineas dokumenter, sebanding dengan murahnya harga peralatan. Film pertama yang dibuat dengan berbagai kemudahan fasilitas ini adalah dokumenter karya Martin Kunert dan Eric Manes: Voices of Iraq, dimana 150 buah kamera DV dikirim ke Iraq sepanjang perang dan dibagikan kepada warga Irak untuk merekam diri mereka sendiri.

BENTUK DOKUMENTER LAINNYA

FILM KOMPILASI
Film kompilasi dicetuskan pada tahun 1927 oleh Esfir Shub dengan film berjudul The Fall of the Romanov Dynasty. Contoh-contoh berikutnya termasuk Point of Order (1964) yang disutradarai oleh Emile de Antonio mengenai pesan-pesan McCarthy dan The Atomic Cafe yang disusun dari footage-footage yang dibuat oleh pemerintah AS mengenai keamanan radiasi nuklir (misalnya, memberitahukan pada pasukan di suatu lokasi bahwa mereka tetap aman dari radiasi selama mereka menutup mata dan mulut mereka). Hampir mirip dengannya adalah dokumenter The Last Cigarette yang memadukan testimoni dari para eksekutif perusahaan-perusahaan tembakau di depan sidang parlemen AS yang mengkampanyekan keuntungan-keuntungan merokok.
SENI MENYAMBUNG GAMBAR VIDEO

Film yang kita tonton sebetulnya merupakan serangkaian ratusan atau bahkan ribuan gambar yang sebelumnya disusun oleh editor. Gambar atau shot dipilih, dipotong, disambung, menjadi sebuah adegan atau scene, scene itu digabungkan yang kemudian terbentuklah sebuah cerita yang utuh. Shot-shot yang sebelumnya berserakan bagaikan sebuah fuzzle yang bisa jadi sulit untuk dimengerti, ketika disusun terstruktur oleh seorang editor maka akan menjadi satu tontonan yang menarik.


Memilih, memotong, menyambung, menggabungkan shot, tidak semata urusan teknis mekanis sinematik, lebih dari itu akan menjadi urusan rasa atau sense. Nah, jika sebuah karya cipta sudah menggunakan sense maka disadari atau tidak sudah masuk ranah seni. Oleh karena itu editing sebagai bagian tahap proses pembuatan film penulis namai sebagai seni menyambung.


Tulisan Seni Menyambung ini merupakan artikel serial (sekitar 20 seri) yang diharapkan akan menjadi sebuah buku sebagai referensi bagi peminat atau calon editor film di Indonesia. Semoga bermanfaat.



Masa Awal Editing, Edwin S. Porter


Pada awal film pertama kali dibuat tidak mengenal editing, di masa ini film berdurasi pendek sekitar satu menit. Namun ketika film sudah berdurasi panjang sekalipun, seperti Méliès yang sudah berdurasi 14 menit belum ada editing di dalamnya. Film baru merupakan satu shot saja, pada saat itu kamera merekam adegan tanpa ada interupsi pemotongan shot sama sekali. Editing atau penyuntingan gambar pertama kali dilakukan pada film A Trip to the Moon, percobaan ini dilakukan oleh Edwin S. Porter. Porter melakukan apa yang dinamakan sebagai visual continuity, sebuah gagasan luar biasa yang hingga saat ini masih dianut oleh para penyunting gambar. Dalam filmnya The Life of American Fireman, Porter membuat 20 rangkaian shot menjadi satu rangkaian cerita. Film ini sangat sederhana, seorang pemadam kebakaran membantu menyelamatkan seorang ibu dan anak yang terjebak di dalam sebuah gedung yang terbakar. Dengan durasi 6 menit, Porter memperlihatkan adegan menjadi sebuah rangkaian dramatis penyelamatan ke dua orang itu. Porter melakukan intercut adegan penyelamatan di dalam ruangan atau interior dengan gambar lain sebuah kebakaran eksterior gedung. Penggabungan antara interior dengan eksterior tersebut membuat satu rangkaian yang dinamis. Penonton akan mengira bahwa ibu dan anak tersebut bener-benar terjebak dalam gedung yang terbakar, padahal eksterior gedung yang terbakar sebetulnya tidak ada ibu dan anak tadi. Inilah yang dinamakan juxtaposition atau juksta posisi, yakni penempatan atau posisi shot. Dengan jukstaposisi memungkinkan akan melahirkan nilai dramatis baru dibandingkan dengan shot yang berdiri sendiri. Percobaan Porter tidak berhenti di situ, dalam film naratif The Great Train Roberry, Porter melakukan eksplorasi lagi. Porter, memiliki andil cukup besar dalam perkembangan konsep editing narrative continuity.

D.W. Griffith


Griffith, dialah mbahnya editing film pada masa modern ini dan karenanya semua editor film pasti mengenalnya. Pengaruh Griffith tidak hanya pada perkembangan editing di Amerika (baca: Hollywood) bahkan sampai pada Rusia. Kontribusi Griffith adalah editing kontruksi dramatis, pengaruh variasi shot (extreme long shot, close up, cut away, tracking shot), pararel cutting, serta langkah variasi. Percobaan yang dilakukan Griffith ini jauh lebih dahsyat dibandingkan Porter, jika sebelumnya Porter telah menciptakan film secara naratif maka Griffith benar-benar menyadari betul bagaimana juksta posisi memiliki peran yang sangat penting. Maka tidak heran jika Griffith lebih populer ketimbang Porter. Dalam filmnya The Greaser’s Gauntlet, Griffith melakukan penyambungan gambar dengan tipe shot yang berbeda dan penyambungan tersebut benar-benar match dan ini menjadi titik tolak teori editing populer yakni match-cutting. Berikutnya Griffith melakukan eksperimen lainnya di film Enoch Arden, shot pertama dia gunakan long shot, kemudian medium shot dan terakhir close up. Hal ini dia lakukan dengan alasan mengajak penonton secara emosional melihat secara gradual perubahan komposisi gambar. Pada film ini juga Griffith mencoba melakukan penyambungan cutaway untuk menciptakan nilai dramatis yang baru. Dia juga melakukan pararel cutting dengan scene atau adegan lainnya. Eksperimen pararel cutting ini dia lanjutkan pada film The Lonely Villa. Dia mencoba mengkontruksi sebuah scene dengan menyambung beberapa gambar dengan durasi-durasi yang lebih pendek yang menjadikan scene tersebut menjadi lebih dramatis. Kontribusi konsepsi editing ini banyak diikuti para film maker dan editor hingga saat ini, terutama setelah dia berhasil secara dalam feature panjangnya The Birth of Nation, sebuah film epic perang. Inilah mahakarya Griffith dimana semua gagasan konsepsi editing tercurahkan di sini. Perkembanganpun terus berlanjut, pengaruh Griffith hamper sampai ke seluruh pelosok dunia, salah seorang yang melanjutkan konsep Griffith adalah Pudkovin asal Russia.

Vsevolod I. Pudkovin

Pengaruh Griffith sampai juga pada filmmaker Rusia, akan tetapi ada inovasi lain yang dilakukan oleh Pudkovin. Dia mencoba cara lain dari intuisi classical cuttingnya Griffith, dalam bukunya Pudkovin menulis :

The film director [as compared to the theater director], on the other hand, has as his material, the finished, recorded celluloid. This material from which his final work is composed consists not of living men or real landscapes, not of real, actual stage-sets, but only of their images, recorded on separate strips that can be shortened, altered, and assembled according to his will. The elements of reality are fixed on these pieces; by combining them in his selected sequence, shortening and lengthening them according to his desire, the director builds up his own “filmic” time and “filmic” space. He does not adapt reality, but uses it for the creation of a new reality, and the most characteristic and important aspect of this process is that, in it, laws of space and time invariable and inescapable in work with actualitybecome tractable and obedient. The film assembles from them a new reality proper only to itself.

Waktu dalam film dan ruang dalam film, menjadi cukup populer hingga kini. Saat itu Pudkovin melakukan eksperimen bersama temannya Lev Kuleshov, dia mencoba shot yang sama untuk juksta posisi dengan shot lainnya, dan ternyata memberikan pengaruh lain pada audiens. Pada eksperimen ini dia menggunakan aktor Ivan Mosjukin, shot sang aktor dengan ekspresi yang sama dicoba disambungkan dengan 3 shot berbeda yakni dengan : semangkuk soup di atas meja, sebuah shot seorang mayat wanita dalam peti mati, dan gadis kecil yang sedang bermain dengan mainannya. Dengan eksperimen ini ternyata penonton memaknai berbeda pada ekspresi Ivan Mosjukin tadi, pertama dia terlihat seperti orang yang sedang sangat lapar karena berhadapan dengan makanan, kedua dia kelihatan seperti suami yang sedang bersedih, dan ke tiga seperti seorang ayah yang bahagia dengan anaknya.


Shot yang sama jika ditempatkan atau dijuktaposisi dengan shot yang berbeda ternyata menghasilkan “ekspresi yang berbeda” dihadapan penonton, dan ini penting sekali. Jadi, ketika editor melakukan penempatan satu shot dengan shot lainnya, dia harus memikirkan apa dampak yang akan dihasilkan ketika shot tersebut disambungkan.

Sergei Eisenstein

Eisenstein adalah orang kedua yang berpengaruh dalam perfilman di Rusia, dia merupakan sutradara besar. Dia sudah menjadi sutrdara di usia yang sangat muda saat itu. Latar belakang Eisentein adalah teater dan desain, dia mencoba menerjemahkan konsepnya Griffith dan Karl Marx. Percobaan pertama dia lakukan pada film Strike, Eisenstein menemukan lima komponen teori penting dalam editing yakni : metric montage, rhythmic montage, tonal montage, overtonal montage, dan intellectual montage. Eksposisi yang ditawarkan Eisenstein ini dipaparkan secara detail oleh Andrew Tudor dalam bukunya yang terkenal Theories on Film.

Tujuan dari editing film bukan hanya pada kontinyuitas atau kesinambungan cerita saja, jauh dari itu nilai dramatis tidah boleh diabaikan. Problem editing akan terjadi pada individual shot, apakah dalam shot tersebut merupakan gambar diam atau bergerak, apakah fokus ada pada foreground atau background, seberapa dekat subyek di dalam sebuah frame, apakah subyek berada di tengah atau salah satu sisi frame, bagaimana dengan warna serta cahaya yang ada dalam shot tersebut? Akan menjadi dramatis ketika shot sudah dijukstaposisi, shot ke dua harus punya relasi atau hubungan dengan shot sebelumnya. Hubungan antar shot tersebut harus diperhatikan oleh editor.


Film yang paling sederhana merupakan shot tunggal yang sudah merupakan rangkaian adegan, misalnya : seorang laki-laki memasuki café lalu duduk dan memesan minuman. Akan tetapi bisa jadi shot tunggal yang secara waktu merupakan waktu nyata/realtime ini menjadi tidak menarik, karena tidak ada perubahan komposisi, perubahan sudut pandang, perubahan ritme. Kasus seperti ini yang menjadi perhatian Griffith untuk mencoba membuat apa yang dinamakan dramatic time. Waktu nyata atau real time bisa dilanggar dengan dramatic time, dengan menempatkan shot lain bukan shot tunggal. Editor bisa menempatkan shot

Pemotongan Gambar


Ada dua jenis pemotongan gambar dalam editing, yakni cut dan transisi. Cut berarti perpindahan dari satu shot ke shot berikutnya secara langsung, tanpa ada transisi sama sekali. Sedangkan transisi atau effect transition , jenis sambungan yang menggunakan transisi/antara dari satu shot ke shot berikutnya. Editor bisa menggunakan cut atau transisi tergantung dari dampak atau efek apa yang diinginkan, karena secara prinsip penggunaan ke dua jenis transisi ini akan berbeda. Misalnya, durasi film yang sama akan terasa lebih lama jika dalam fim tersebut menggunakan efek transisi daripada penggunaan cut. Jenis pemotongan cut sendiri dibagi dua, yakni matched cut dan cut away. Match cut berarti ada kesinambungan antar shot satu dengan cut shot berikutnya. Sebuah sambungan atau cut dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Penyambungan


Editing tidak boleh membingungkan penonton, ini sebuah prinsip dasar yang harus dimiliki oleh seorang editor. Ketika shot disambungkan satu sama lain sehingga menjadi satu rangkaian, maka rangkaian shot tersebut harus dipahami oleh penonton. Barangkali, baiknya editor terlebih dahulu memahami tentang prinsip penyambungan shot, yang terdiri atas : sequence shot, cutting to continuity, classical cutting, thematic montage, dan abstract cutting.

Sequence Shot


Film atau adegan dibuat tanpa menggunakan pemotongan sama sekali atau no cut. Awalnya metode ini dilakukan karena pada awalnya sejarah film, memang belum dikenal dengan teknologi serta prinsip editing. Satu adegan direkam dalam satu shot, tanpa ada interupsi cutting. Makanya pada saat itu film belum bisa dibuat dalam durasi yang panjang. Akan tetatpi, saat ini sepertinya ini dijadikan sebuah model untuk pengambilan gambar secara khusus serta salah satu metode editing. Satu rangkaian adegan dilakukan dalam satu shot tanpa ada pemotongan gambar sama sekali. Misalnya saja, dalam sebuah naskah dituliskan sebuah adegan sebagai berikut : Dalam sebuah kamar kost, Sari mengambil handphone di atas meja, mengambil tas, lalu bergegas ke luar kamar. Sutradara yang menterjemahkan naskah ke dalam bentuk bahasa visual, sebetulnya bisa membuat berbagai treatment shot sesuai dengan gagasannya. Contoh adegan di atas misalnya, sutradara bisa membuat beberapa shot serta bisa jadi beberapa angle atau sudut pengambilan gambar. Namun, dengan konsep sequence shot, sutradara hanya membuat satu shot untuk rangkaian adegan tadi. Demikian juga dalam editing, editor tidak usah melakukan pemotongan atau cutting jika itu dimaksudkan sebagai sequence shot.

Cutting to Continuity


Ketika kita menyambungkan satu shot dengan shot lainnya, seorang editor harus memiliki motivasi atau tujuan yang jelas. Sebuah cerita atau adegan dirangkai dari beberapa shot. Cutting to continuity merupakan sambungan atau cut digunakan untuk melanjutkan cerita, cutting to continue teeling the story. Sebuah cut untuk menyambung scene dengan scene berikutnya. Misalnya, ada beberapa shot sperti ini : 1. Secangkir kopi 2. CU seorang pria 3. Tangan yang mengangkat cangkir kopi 4. Meletakan cangkir 5. Menghela nafas. Jika ke lima shot itu disambung maka akan menghasilkan cerita, misalnya menjadi seorang pria yang sedang meminum kopi. Dan ini yang dinamakan penyambungan untuk membuat satu cerita.

Classical Cutting


Kalau anda suka menonton sinetron atau film India, maka dipastikan kita akan melihat (baik disadari atau tidak) satu konsep penyambungan gambar seperti ini, yakni classical cutting. Yakni sebuah pemotongan untuk memperjelas, mendramatisir atau menggarisbawahi sesuatu (shot), cutting to clarify, dramatize or underline the previous shot. Hampir sama dengan jenis sambungan cutting to continuity, bedanya dalam jenis penyambungan ini diharapkan penonton akan mendapatkan efek yang dramatis akan perpindahan gambar ini. Misalnya ada dua tokoh yang sedang berantem dengan ekspresi muka yang marah. Editor melakukan penyambungan beberapa kali pada ke dua tokoh tersebut dengan maksud untuk memperjelas bahwa ada konflik di antara ke dua tokoh tersebut.

Thematic Montage


Sudah sejak dari jaman awal sinema, para sineas Russia telah mencoba beberapa eksperimen penyambungan gambar. Dan yang paling polpuler yang mereka lakukan, dan hingga kini masih berpengaruh pada para sineas dunia yakni metode penyambungan gambar thematic montage. Yakni sebuah cut untuk menyambung satu cerita dengan cerita lain, sebuah cut untuk menyambung sebuah tesis (shot) dengan tesis (shot) lain; cutting to connect one story to another; cutting to argue one thesis to another.


Eksperimen ini dilakukan dengan cara menggabungkan satu cerita dengan cerita lain akan menghasilkan cerita yang baru. Sineas Russia itu mencoba menggabungkan, satu cerita tentang tentara dengan perlengkapan perang yang lengkap yang ke luar dari kapal perang. Di satu cerita lain, petani gandum yang sedang panen. Ketika ke dua scne itu digabungkan, maka seolah-olah akan terjadi invasi tentara pada petani gandum.

Abstract Cutting


Sebuah cut yang tidak untuk menyambung cerita, tidak untuk memperjelas atau mendramatisasi atau menggarisbawahi sesuatu, juga tidak untuk menyambung satu cerita dengan cerita lain; juga tidak untuk menyambung satu thesis dengan thesis lain, maka sebuah sambungan berfungsi hanya sebagai sambungan belaka; cutting is cutting; cutting as cutting

Jumat, 02 Maret 2012

HARGA VIDEO SHOOTING / PAKET

Silver Cinema


1 Keping Master DVD (Maximal) 
1 Keping DVD ( Durasi 1,5 Jam )
Animation Pembuka (Opening )

  Harga normal Rp. 1800.000 ——-> Harga promosi Rp1500.000
 


Gold Sinema

1 Keping Master DVD (Maximal)

2
KEPING DVD ( Durasi 2 Jam )
Animation Pembuka ( Opening ) +Grafis

Harga normal Rp. 2000.000 ——-> Harga promosi Rp1800.000

Platinum Cinema

1 keping Master DVD Eksklusif (Durasi DVD Unlimited)
4 Keping DVD 
Animation Pembuka ( Opening ) +Grafis 
Wedding Sinema
Dokementasi dengan 2 Kamera
 
Harga normal Rp. 5000.000 ——–> Harga promosi Rp 4.500.000
 

JASA VIDEO SHOOTING







Calon Penganten yg berbahagia,

Berikan kesan yang terbaik untuk tamu-tamu anda dan keluarga agar Pesta Pernikahan yang di gelar sukar untuk dilupakan.Kami menyediakan layanan Video Pre Wedding dengan harga sangat terjangkau. Sumatera Barat,Kota Padang pada Khususnya dan  referensi kami untuk area Pre weedding.
 
Untuk kenyamanan dan kepuasan Anda, gunakan jasa Video Shooting profesional agar momen-momen romantis Anda dan pasangan dapat dinikmati dengan hati yang berbunga tanpa ada rasa bosan untuk melihat dan melihat kembali. Keinginan tersebut tidak akan berhenti sampai Anda mempunyai anak cucu di kemudian hari.

Kualitas dokumentasi anda tidak akan pudar oleh waktu, dan warna akan tetap komitmen sampai tahun-tahun yang yang akan datang.Dalam kehidupan Sosial, banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi, gaya hidup dan teknologi hampir tiap hari selalu ada yang terbaru dan terbaru. Begitu pesatnya dan membuat kepala harus bergeleng mengikuti irama perubahan yang terjadi.. Untuk itu kami mengambil salah satu perubahan di bidang teknologi Video Shooting.
 
Dengan berbekal ilmu, keuletan dan kejujuran serta kerja yang maksimal kami sepakati untuk memberikan jasa pelayanan masyarakat di bidang Video Shooting.

Penjiwaan yang dalam dibidang seni sangat mempengaruhi hasil dan kualitas finishing dari objek gambar. Kalau Penjiwaan seni tidak ada di dalam diri seorang Videografer, maka akan banyak sekali rasa ketidakpuasan para peminta jasa Video Shooting dikarenakan hasil yang diinginkan kurang Maksimal…

Sumber Daya Manusia

Kami memilki tenaga-tenaga muda professional dan team kreatif yang akan membuat momen penting dalam kehidupan Anda menjadi Indah dan dapat di kenang sepanjang masa. Hal inilah yang memacu kami untuk terus memperbaiki mutu serta pelayanan demi kepuasan pelanggan, karena buat kami pelanggan adalah raja yang harus dilayani dengan sebaik-baiknya. Setiap perkembangan Teknologi Digital selalu kami terapkan sebagai bahan acuan yang akan menjadikan kualitas gambar dan video menjadi lebih indah untuk dinikmati. 

Anda tidak perlu ragu dengan tenaga-tenaga Profesional yang kami miliki.Kami akan sangat berterimakasih apabila Anda memberikan sumbangsih berupa kritik dan saran yang membangun.Say it by picture...dengan hasil karya seni yang berkualitas dunia.

Anda pemilik usaha katering, dekorasi, bridal salon, rias pengantin atau wedding organizer? Dengan senang hati kami membuka kerjasama dengan usaha Anda,
Brosur dan Layanan Umum

Jika Anda membutuhkan sample dalam bentuk DVD (video) silahkan hubungi Sdr. ajo Ridwan : 081374277677-08535643027,melalui via SMS sample akan dikirimkan ke alamat Anda, FREE…